Di Desa Timun yang tenang dan asri, hiduplah sebuah keluarga kancil yang ceria, Cila si sulung yang bijaksana, Cili si tengah yang tangguh, dan Cilo si bungsu yang penuh energi dan cinta pada bola. Mereka hidup bersama kedua orang tua yang penuh kasih dan Ayam, si ayam jantan setia yang menjaga rumah mereka.
Di tempat tanpa gadget ini, ketiga saudara tersebut tumbuh dengan kebebasan di tengah alam, menghabiskan hari-hari mereka menjelajahi lingkungan sekitar, membuat proyek-proyek kreatif, dan merakit mainan tradisional. Setiap momen di Desa Timun dipenuhi dengan imajinasi tanpa batas, inspirasi tiada habisnya, dan kebahagiaan, membuktikan bahwa dibalik kehidupan yang sederhana tersembunyi berbagai petualangan luar biasa.
Asal-usul Desa Timun terinspirasi dari cerita rakyat Asia Tenggara tentang kancil cerdik, yang dikenal sebagai pencinta timun. Di Indonesia, kisah ini terkenal dengan pantun:
“Si Kancil anak nakal, suka mencuri timun, ayo lekas dikurung, jangan diberi ampun.”
Di Desa Timun, Si Kancil telah dewasa dan meninggalkan sifat nakalnya. Kini, ia menanam timun, menjadikannya melimpah di desa yang diberi nama Desa Timun. Cerita ini mengikuti kehidupan anak-anaknya—Cila, Cili, dan Cilo—dalam petualangan seru dan momen penuh kehangatan.
–
–
–
–
–
–